BAB
I
PENDAHULUAN
I.1. Latar
Belakang
Lalat merupakan salah satu insekta Ordo
diptera yang merupakan anggota kelas Hexapoda atau insekta mempunyai jumlah
genus dan spesies yang terbesar yaitu mencakup 60-70 % dari seluruh spesies
Anthropoda. Lalat dapat mengganggu kenyamanan hidup manusia, menyerang dan
melukai hospesnya (manusia atau hewan) serta menularkan penyakit. Mulutnya
digunakan sebagai alat untuk menghisap atau menjilat. Lalat merupakan vektor
mekanis dari berbagai macam penyakit, terutama penyakit-penyakit pada saluran
pencernaan makanan. Penyakit yang ditularkan oleh lalat tergantung sepesiesnya.
Lalat rumah (musca domestica) dapat membawa telur ascaris, spora anthrax
dan clostridium tetani. Lalat dewasa dapat membawa telur cacing usus (Ascaris,
cacing tambang, Trichuris trichiura, Oxyiuris vermicularis, taenia solium,
taenia saginata), Protozoa (Entamoeba histolytica), bakteri usus (Salmonella,
Shigella dan Escherichia coli), virus polio, Treponema pertenue (penyebab
frambusia) dan Mycobacterium tuberculosis. Lalat kecil (Fannia) dapat
menularkan berbagai jenis Myasis (Gastric, Intestinal dan Genitourinary). Lalat
kandang (Stomoxys calcitrans) merupakan vektor penyakit anthrax,
tetanus, yellow fever dan traumatic myasis dan entric pseudomiasis (walaupun
jarang). Lalat hijau (Phaenicia) dapat menularkan Myasis mata, tulang
dan organ melalui luka.Lalat daging (Sarcophaga) dapat menularkan Myasis
kulit, hidung, jaringan,vagina dan usus14.
Lalat juga merupakan species yang
berperan dalam masalah kesehatan masyarakat, yaitu sebagai vektor penularan
penyakit saluran pencernaan seperti: kolera, typhus, disentri, dan lain lain
Pada saat ini dijumpai ± 60.000 – 100.000 spesies lalat, tetapi tidak semua
species perlu diawasi karena beberapa diantaranya tidak berbahaya terhadap
kesehatan masyarakat.
Penularan penyakit dapat terjadi
melalui semua bagian dari tubuh lalat seperti : bulu badan, bulu pada anggota
gerak, muntahan serta faecesnya. Dalam upaya pengendalian penyakit menular
tidak terlepas dari usaha peningkatan kesehatan lingkungan, salah satu
kegiatannya adalah pengendalian vektor penyakit.
Pengendalian vektor penyakit
merupakan tindakan pengendalian untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang
ditimbulkan oleh binatang pembawa penyakit, seperti lalat . Saat ini banyak
sekali metode pengendalian lalat yang telah dikenal dan dimanfaat kan oleh
manusia. Prinsip dari metode pengendalian lalat adalah pengendalianitu dapat mencegah perindukan
lalat yang dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan manusia.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Pengertian
Lalat.?
2.
Bagaimana Ciri-Ciri
Lalat.?
3.
Bagaimana Klasifikasi Lalat.?
4.
Bagaimana Marfologi Dari
Bagian Tubuh Lalat.?
1.3 Tujuan
1.
Untuk Mengetahui Bagaimana
Pengertian Lalat
2.
Untuk Mengetahui Bagaimana
Ciri-Ciri Lalat
3.
Untuk Mengetahui Bagaimana Klasifikasi Lalat
4.
Untuk Mengetahui Bagaimana
Marfologi Dari Bagian Tubuh Lalat
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Pengertian
Tubuh
lalat biasanya pendek dan ramping, telah beradaptasi dengan gerakan udara.
Tagma pertama dari lalat, kepala, terdiri atas ocelli, antena, mata majemuk,
dan bagian-bagian mulut (labrum, labium, mandibula, dan maksila). Tagma kedua,
toraks, menahan sayap dan memiliki otot-otot terbang pada ruas kedua, yang
bentuknya membesar. Ruas pertama dan ketiga bentuknya lebih kecil. Pada ruas
ketiga toraks terdapat halter, yang membantu menyeimbangkan lalat selama
terbang. Adaptasi lebih lanjut untuk terbang adalah pengurangan jumlah ganglion
saraf dan konsentrasi jaringan saraf di toraks, suatu ciri yang paling berbeda
pada infraordo Muscomorpha.
Lalat
memiliki kepala yang dapat begergerak dengan mata dan sebagian besar memiliki
mata majemuk yang besar di sisi kiri dan kanan kepalanya, dengan tiga ocelli
kecil di atasnya. Untuk pengendalian arah pandangan, wilayah jangkauan optik
dianalisis oleh sekumpulan neuron yang sensitif terhadap gerakan. satu bagian
dari neuron-neuron ini diduga digunakan untuk mengestimasi parameter-parameter
gerakan sendiri, seperti mengoleng, berguling, dan berbelok. Neuron-neuron
lainnya diduga digunakan untuk menganalisis materi penglihatan itu sendiri,
seperti mengidentifikasi bentuk suatu figur di tanah dengan menggunakan
paralaks gerak. Bentuk antena beragam, tapi seringnya pendek untuk mengurangi
beban saat terbang.
Tidak
ada spesies lalat yang memiliki gigi atau atau organ lainnya yang memungkinkan
mereka untuk memakan makanan padat. Lalat hanya mengonsumsi makanan cair atau
butiran-butiran kecil, seperti serbuk sari, dan bagian-bagian mulut dan
pencernaan mereka menunjukkan modifikasi yang bervariasi sesuai dengan jenis
makanannya. Tabanidae betina menggunakan mandibula dan maksila seperti pisau
use untuk membuat sayatan menyilang di kulit inang dan mengisap darahnya. Perut
tabanidae termasuk divertikula besar, memungkinkan lalat tersebut menyimpan
sejumlah kecil cairan setelah makan.
2.2
Ciri-Ciri
Hewan ini berasal dari subordo
Cyclorrapha Ordo Diptera. Lalat jika hinggap di suatu tempat bisa
menyebabkan sekitar 125 ribu kuman bakteri yang jatuh di lokasi tersebut, lalat
memiliki antena yang pendek dan memiliki 2 sayap asli dan 2 sayap kecil yang
berfungsi sebagai stabilitas saat hewan lalat tersebut terbang.
Lalat dianggap sebagai
penyebar penyakit yang cukup serius karena ya itu tadi bisa menyebarkan ratusan
ribu kuman bakteri saat mendarat disuatu tempat. Lalat sendiri sangat
mengandalkan penglihatannya agar bisa terus bertahan hidup. mata hewan lalat
majemuk yang terdiri dari ribuan lensa dan sangat peka terhadap gerakan
disekitarnya bahkan sebagian lalat ada yang memiliki penglihatan 3 dimensi yang
sangat akurat serta ada juga yang bahkan memiliki pendengaran yang canggih
semisal Ormia ochracea.
Lalat memiliki populasi
yang sangat besar karena mereka mampu melakukan perkawinan secara efektif dalam
waktu yang relatif singkat selama musim kawin. Hewan lalat jenis kelamin betina
biasanya meletakkan telur – telur lalat di dekat sumber makanan misalnya pada
buah – buahan yang hampir matang sehingga setelah telur menetas setelah di
letakkan di sumber makanan maka larva akan bisa mengkonsumsi makanan sebanyak –
banyaknya dalam waktu singkat sebelum larva tersebut beranjak menjadi lalat
dewasa.
2.3 .
Klasifikasi lalat
Klasifikasi jenis lalat yang hidup berdekatan
dengan manusia adalah sebagai berikut.
Phylum :
arthropoda
Class : Hexapoda
Ordo : Diptera
Family : Muscidae, Sarcophagidae,
Calliphoridae, dll
Genus
: Musca, Stomoxys, Phenisia, Sarcophaga, Fannia dll
Spesies
: Musca domestika, Stomoxy calcitrans, Phenisia sp, Sarcophaga sp, Fannia.
Lalat merupakan lalat yang termasuk
ordo diptera. Famili yang terpenting dalam ordo diptera antara lain Famili Muscidae,
Famili Calliphoridae, dan Famili Oestrida. Musca domestica adalah
spesies yang paling merugikan ditinjau dari sudut kesehatan manusia, hal ini
disebabkan karena jenis lalat yang paling banyak terdapat diantara jenis-jenis
lalat rumah, karena fungsinya sebagai
vektor transmisi mekanis dari berbagai bibit penyakit dan berhubungan erat
dengan lingkungan hidup manusia7.
2.4. Marfologi Dari :
a.
Kepala (Caput)
Bentuk umum
kepala lalat berupa struktur seperti kotak. Pada kepala terdapat alat mulut
antara, mata majemuk dan mata tunggal (oselus). Permukaan belakang kepala lalat
sebagian besar berupa lubang melalui lubang ini berjalan urat syaraf fentral,
trakea, sistem saluran pencernaan, urat daging, atau kadang – kadang
a.
Pandangan anterior
b.
Pandangan lateral
c.
Pandangan posterior
Posisi kepala lalat
berdasarkan letak arah mulut dapat di bedakan menjadi:
1.
Hypognatus (vertikal)
Apa bila arah mulut lalat
menghadap ke bawah dan segmen – segmen kepala ada dalam posisi yang sama dengan
tangkai, contohnya : belalang ortoktera
2.
Prognatus (horizontal)
Apabila bagian dari arah mulut
menghadap kedepan dan biasanya lalat ini aktif mangsa, contoh : coccinella
arcuta (ordo coleoptera).
3.
Opistognatus (obligue)
Apabila bagian dari arah mulut
mengarah kebelakang dan terletak diantara sela – sela pasangan tungkai, contoh :
walang sangit, Neptokorixa acuta (ordo meunitera).
![]() |
b.
Kaki
kaki merupakan salah satu embelan pada toraks
lalat selain sayap. Tungkai lalat terdiri atas beberapa ruas (segmen). Ruas
pertama disebut koksa (coxa) merupakan bagian yang melekat langsung pada
toraks. Ruas kedua disebut trokhanter (trochanter), berukuran lebih pendek dari
pada koksa dan sebagian bersatu dengan ruas ketiga. Ruas ketiga disebut femur
merupakan ruas yang terbesar. Selanjutnya, ruas keempat disebut fibia, biasanya
lebih ramping tetapi kira – kira sama ratanya panjangnya dengan femur. Pada
bagian ujung fibia ini biasanya terdapat duri – duri atau taji. Ruas terakhir
disebut tarsus – tarsus ini biasanya terdiri atas 1 sampai 5 ruas. Diujung ruas
terakhir tarsus terdapat pretarsus yang terdiri dari sepasang kuku tarsus. Kuku
tarsus ini disebut claw. Diantara kuku tersebut terdapat struktur seperti
bantalan yang disebut arolium.
![]() |
c.
Thorakt
Thorax memiliki tiga pasang kaki dan dua
pasang sayap, namun, beberapa lalat tidak memiliki sayap sama sekali.
![]() |
d.
Abdomen
Abdomen pada lalat
primitif tersusun atas 11-12 ruas yang
dihubungkan oleh bagian seperti Selaput (membran). Jumlah ruas untuk tiap
spesies tidak sama. Pada lalat primitif (belum mengalami evolusi) ruas abdomen
berjumlah 12. Perkembangan evolusi lalat menunjukkan adanya tanda – tanda bahwa
evolusi menuju kepengurangan banyaknya ruas abdomen.
Sebagian besar
ruas abdomen tampak jelas terbagi menjadi tergum
(bagian atas) dan sternum (bagian
bawah), sedangkan pleuron (bagian
tengah) tidak tampak, sebab sebagian bersatu dengan tergum. Perbedaan kelamin
jantan dan betina dapat dilihat jelas pada bagian abdomen ini. Pada abdomen lalat
betina terdapat 10 ruas tergum dan 8 ruas sternum, sedangkan pada lalat jantan
terdapat 10 ruas tergum dan 9 ruas sternum. Ruad ke-11 abdomen pada belalang
betina tinggal berupa pelat dorsal berbentuk segitiga yang dinamakan epiprok dan sepasang pelat
lateroventral yang dinamakan paraprok.
Di antara ujung – ujung epiprok dan paraprok terdapat lubang anus. Tergum ruas
ke-11 memiliki sepasang embelan yang dinamakan cerci (tunggal : cercus). Pada lalat betina embelan – embelan
termodifikasi pada ruas abdomen kedelapan dan kesembilan membentuk ovipositor (alat peletakkan telur) di
mana terdiri atas dua pasang katub yang dinamakan valvifer dan selanjutnya menyandang
valvulae (sepasang pada ruas
kedelapan dan dua pasang pada ruas kesembilan). Alat kopulasi pada lalat jantan
biasanya terdapat pada ruas abdomen kesembilan.
![]() |
e.
Antena

f.
Sayap
Lalat merupakan
satu – satunya binatang inverbrata yang memiliki sayap. Adanya sayap
memungkinkan lalat dapat lebih cepat menyebar (mobilitas) dari suatu tempat
ketempat lain dan menghindar dari bahaya yang mengancamnya.
Sayap merupakan
tonjolan integumen dari bagian meso dan metoraksi. Tiap sayap tersusun atas
permukaan atas dan bawah yang terbuat dari bahan khitin tipis. Bagian – bagian
tertentu dari sayap yang tampak sebagai garis tebal disebut pembuluh yang atau rangka sayap pembuluh atau
rangka sayap memanjang disebut rangka sayap membujur (longitudinal) dan yang
melintang disebut rangka sayap melintang. Sedangkan, bagian atau daerah yang
dikelilingi pembuluh atau rangka sayap disebut sel.
Tidak semua lalat
memiliki sayap. Lalat yang tidak bersayap digolongkan kedalam subkelas aptery
gota, sedangkan lalat yang memiliki sayap digolongkan kedalam subkelas ptery
gota.
Sayap lalat
terletak pada mesotoraks, apabila lalat memiliki dua pasang sayap. Jika lalat
hanya memiliki satu sayap, maka sayap tersebut terletak pada mesotoraks dan
pada metatoraks terdapat sepasang halter. Halter ini berfungsi sebagai alat keseimbangan
pada saat lalat tersebut terbang.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tubuh
lalat biasanya pendek dan ramping, telah beradaptasi dengan gerakan udara.
Tagma pertama dari lalat, kepala, terdiri atas ocelli, antena, mata majemuk,
dan bagian-bagian mulut (labrum, labium, mandibula, dan maksila)
Lalat
memiliki kepala yang dapat begergerak dengan mata dan sebagian besar memiliki
mata majemuk yang besar di sisi kiri dan kanan kepalanya, dengan tiga ocelli
kecil di atasnya
Lalat dianggap sebagai
penyebar penyakit yang cukup serius karena ya itu tadi bisa menyebarkan ratusan
ribu kuman bakteri saat mendarat disuatu tempat. Lalat sendiri sangat
mengandalkan penglihatannya agar bisa terus bertahan hidup
Lalat memiliki populasi
yang sangat besar karena mereka mampu melakukan perkawinan secara efektif dalam
waktu yang relatif singkat selama musim kawin.
Sayap lalat
terletak pada mesotoraks, apabila lalat memiliki dua pasang sayap. Jika lalat
hanya memiliki satu sayap, maka sayap tersebut terletak pada mesotoraks dan
pada metatoraks terdapat sepasang halter. Halter ini berfungsi sebagai alat
keseimbangan pada saat lalat tersebut terbang
DAFTAR PUSTAKA
Kardina, Agus, 2007. Daya Tolak Ekstrak Tanaman (Rosmarinus Officinalis) terhadap Lalat
(Musca Domestica).
Mahajoeno, Edwi, 2000. Toksisitas Ekstrak Tembakau Sisa Pabrik Rokok terhadap Lalat Rumah (Musca domestica).Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.
Manalu, Merylanca, 2012. Hubungan Tingkat Kepadatan Lalat (Musca
Domestica) dengan Kejadian Diare pada Anak Balita Dipemukiman Sekitar Tempat
Pembuangan Akhir Sampah Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli
Serdang. Program Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara. Medan.
Rudianto, Heru, 2005. Studi Tentang Perbedaan Jarak Perumahan Ke
TPA Sampah Open Dumping dengan Indikator Tingkat Kepadatan Lalat dan Kejadian
Diare (Studi Di Desa Kenep Kecamatan Beji Kabupaten Pasuan).
Sayono, 2007. Pengaruh Aroma Umpan dan Warna Kertas
Terperangkap Terhadap Jumlah Lalat yang Terperangkap. Universitas
Muhammadiyah Malang.
Usmiati, Sri, 2006. Limbah Penyulingan Sereh Wangi dan Nilam
sebagai Insektisida Pengusir Lalat Rumah (Musca Domestica).Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Pascapanen Pertanian. Bogor.
No comments:
Post a Comment